Rabu, 31 Agustus 2011

Tititk Didih yang ku tunggu

Haruskah kesumatku berdiri lagi senja ini
Setelah jejakmu mengotori pelataran bilikku
Tak ku pungkiri, tiada rasa gentar berdesir atasmu
Bahkan tuk ku tiupkan seruling kematian atas warugamu
Teruslah midar merebak di jumantara biruku
Hingga jengahku menemui titik didihnya
Dan menyulut pawaka para brahma dalam diriku
Siap melahap habis kesumbangan pamanggihmu
Diamku tak selamanya bungkam
BIla terus aku kau tikam dengan kebusukan pradugamu
Tak segan lagi tuk ku bungkam tuturmu itu !!!

Di tengah tanyaku,....

Petah sudah sepiku mengeja kehampaan sang waktu
Bagai kelelahan silaras terpanggang bara diwangkara
Kala berburu harumnya rebak aroma kembang nirwana
Tak perduli dengan riuh rendah nada sumbang para peracau
Masih saja terus melangkah menapakkan kaki
Di tengah aral dan marga penuh duri
Inikah karmawedhaku
Yang sengaja ia tuliskan diatas kanvas buramku

Serapah

Salam apa yang kan kau ucapkan pada dukaku
Dan penawar apa yang kau berikan atas lukaku
Pedih dan pilu jelas masih terasa di sendiku
Masih juga kau tampar aku dengan bait rindumu
Kiranya belum puas juga kau bermain dengan rasamu
Hingga harus kau bunyikan lonceng kematian padaku
Setalah kau tikam aku dan mencabik cabik hatiku
Katakan padaku , . . . . .
Serapah apalagi yang harus ku ucap untukmu
Agar kau menyudahi semua permainan ini

Kamis, 25 Agustus 2011

 Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya,
Sebab keelokan paras dapat menyesatkan.
Jangan pula tertarik kepada kekayaannya
Karena kekayaan dapat musnah.
Namun tertariklah kepada seseorang
Yang dapat membuatmu tersenyum dan merasa damai,
Karena hanya itu 

Yang dapat membuat hari surammu menjadi indah. 


Desah di Jumantara

Maaf kuhaturkan padamu duhai sang wira
Atas silap rekah kelopakku di tengah pastura
Dungunya aku yang tak mampu mengeja
Bara asmara yang terselap dalam dada
Hingga kau pun berlalu tanpa kata
Namun desah dari palung jiwamu
Kini merebak di jumantara biruku
Dan menyisakan getir di ujung senja
Baru ku tahu pedihmu menanggung luka
Atas cintamu  yang tak sempat nuksma
Sesak sudah hela nafas berpacu dengan luhku
Kala ku pahami rasa cemburumu
Pada kumpulan kumbang jati
Yang setia midar di antara kembangku


Notes : Wira : pria
Pastura : Taman
Terselap : Datang diam diam
Nuksma : Menjelma
Luh : Tetes air mata
Midar : Mengelilingi


Selasa, 23 Agustus 2011

Bisa ,.....

Syahda,,aksaramu terasa
Sanggup membuai jiwa
Mabuk dalam khayal mengoyak nalar
Bagai hembus bisa ular
Terlalu sakit tuk ku telan
Tapi juga terlalu sayang tuk ku abaikan
Akkkgghh,.....

Senin, 22 Agustus 2011

Terpukul biasmu,......

Kau dan aksaramu yang begitu sempurna
Seperti rasamu yang tak pernah sirna
Yang selalu mengitari wardahku di tengah sahara
Hingga biasmu begitu menyilaukan mata
Dan kadang menyakiti jiwa ,....