Bening danau ditengah safanah
Disanalah ku bendung cinta tak bertuah
Betapa gagah belantara menghias tepinya
Merentang legam tangan kekarnya
Tuk menghadang serdadu rindu menyerang
Cukup sudah semua gamang
Aku sudah cukup senang dari kejauhan
Dapat mencuri pandang pada sebuah senyuman
Haruskah aku serakah berhasrat mengabadikannya
Sedang ku tahu, akulah pelukis lengkung indahnya
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 12 November 2011
Formasi Rindu
Buram ku hindarkan
Dari jalanan sunyi ku tepikan
Di sudut beku berteman serdadu rindu
Bukan sekali atau dua kali ku sebut namamu
Entah tak terbilang sudah ku cipta sajak biru
Sayang,.....
Kini ku dihadapkan pada deretan deretan kaku
Aksara fana sebuah kehidupan
Tanpa tahu harus kemana ku jabarkan
Formasi rindu ini kian menyesatkan
Dari jalanan sunyi ku tepikan
Di sudut beku berteman serdadu rindu
Bukan sekali atau dua kali ku sebut namamu
Entah tak terbilang sudah ku cipta sajak biru
Sayang,.....
Kini ku dihadapkan pada deretan deretan kaku
Aksara fana sebuah kehidupan
Tanpa tahu harus kemana ku jabarkan
Formasi rindu ini kian menyesatkan
Jumat, 04 November 2011
Entah sudah berapa kali
Ku temui simpang jalan dan berliku
Tak ada yang tak baik
Semua selalu membawa hikmah
Seperti ku percayai mentari esok pagi
Yang setia beri hangat dijiwa...
Biarlah kenangan kenangan masa lalu
Berenang renang dalam ingatan waktu
Hanya doa,
Yang mampu ku larung bersama rinduku
Smoga sampai digeladrimu....
Ku temui simpang jalan dan berliku
Tak ada yang tak baik
Semua selalu membawa hikmah
Seperti ku percayai mentari esok pagi
Yang setia beri hangat dijiwa...
Biarlah kenangan kenangan masa lalu
Berenang renang dalam ingatan waktu
Hanya doa,
Yang mampu ku larung bersama rinduku
Smoga sampai digeladrimu....
Rabu, 21 September 2011
Intermezzo di ubun ubun siang
Terik sang surya hangat memanggang ragaNamun tak sampai buat akalku kalah menyerah Dalam kesendirian sempat ku layangkan fikirkuTentang gambaran rupa negriku di masa mendtangMiris memang menyaksikan ulah para penguasaYang tak henti mencari sensasi bak selebritiSeinci demi seinci ,ku telusuriSeolah menapak tilas beberapa fakta yang adaDengan merunut berbagai peristiwaPemilu memang masih lama,bbrp taun lagiTepatnya taun 2014,.....
Namun sebelum 2014 Negara kita tlah di guncang prahara besar atau yang disebut Goro-Goro.
Dan inilah beberpa tanda tandanya dari Goro Goro tersebut :
Sing suwarane seru oleh pengaruh---Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.
Wong pinter diingar-ingar---Si pandai direcoki
Wong ala diuja---Si jahat dimanjakan.
Bandha dadi memala---Hartabenda menjadi penyakit
Pangkat dadi pemikat---Pangkat menjadi pemukau.
Patihe kepala judhi---Maha menterinya benggol judi
Angkara murka ngombro-ombro---Angkara murka menjadi-jadi.
Ukum agama dilanggar---Hukum agama dilanggar.
Wong bener saya thenger-thenger---orang benar makin tertegun.
Wong salah saya bungah-bungah---orang salah makin sorak sorai.
Wong lugu kebelenggu--- Orang yang lugu dibelenggu.
Wong jahat munggah pangkat--- Orang jahat naik pangkat.
Wong wadon ilang kawirangane--- perempuan hilang malu.
Ukuman Ratu ora adil --- Hukuman Raja tidak adil
Akeh udan salah mangsa--- Banyak hujan salah musim.
Wong suci dibenci---Orang suci dibenci.
Wong jahat ditampa---Orang jahat diterima.
Akeh wong dakwa dinakwa---Banyak orang saling tuduh.
Selot-selote mbesuk wolak-waliking jaman teka---
Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya jaman.
Jaman inilanh yang disebut Goro-Goro
Ya semoga seusai dengan terjadinya Goro Goro
Akan ada satu keajaiban dariNya tuk bisa Noto NegoroMenuju kemakmuran ,.........................
Gemah ripah loh jinawi tak lagi hanya dalam angan,............
Namun sebelum 2014 Negara kita tlah di guncang prahara besar atau yang disebut Goro-Goro.
Dan inilah beberpa tanda tandanya dari Goro Goro tersebut :
Sing suwarane seru oleh pengaruh---Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.
Wong pinter diingar-ingar---Si pandai direcoki
Wong ala diuja---Si jahat dimanjakan.
Bandha dadi memala---Hartabenda menjadi penyakit
Pangkat dadi pemikat---Pangkat menjadi pemukau.
Patihe kepala judhi---Maha menterinya benggol judi
Angkara murka ngombro-ombro---Angkara murka menjadi-jadi.
Ukum agama dilanggar---Hukum agama dilanggar.
Wong bener saya thenger-thenger---orang benar makin tertegun.
Wong salah saya bungah-bungah---orang salah makin sorak sorai.
Wong lugu kebelenggu--- Orang yang lugu dibelenggu.
Wong jahat munggah pangkat--- Orang jahat naik pangkat.
Wong wadon ilang kawirangane--- perempuan hilang malu.
Ukuman Ratu ora adil --- Hukuman Raja tidak adil
Akeh udan salah mangsa--- Banyak hujan salah musim.
Wong suci dibenci---Orang suci dibenci.
Wong jahat ditampa---Orang jahat diterima.
Akeh wong dakwa dinakwa---Banyak orang saling tuduh.
Selot-selote mbesuk wolak-waliking jaman teka---
Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya jaman.
Jaman inilanh yang disebut Goro-Goro
Ya semoga seusai dengan terjadinya Goro Goro
Akan ada satu keajaiban dariNya tuk bisa Noto NegoroMenuju kemakmuran ,.........................
Gemah ripah loh jinawi tak lagi hanya dalam angan,............
Selasa, 20 September 2011
"Senandung Lir Ilir VS MERDEKA "
Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir
Tak ijo royo royo
Tak sengguh panganten anyar .....
Senandung tembang yang eyang kakung ajarkan padaku
Sampai kini masih sering ku lantunkan di sela sepiku
Meski ku harus menghela nafas panjang
Di sela nada nada yg ku nyanyikan
Bagaimana tanaman bisa hijau
Bila benih yg ditabur adl kedzoliman
Dan berpupuk ketamakan
Ya eyang,,,.....
Seekor tikus saja di jaman sekarang
Bisa mati di dalam lumbung pangan sendiri
Eyang,,,,,ku hanya bisa tersenyum getir
Kala mengadu mukadimah
Dari tembang eyang kakung dgn kenyataan ini
Bayangan gemah ripah loh jinawi
Seketika lenyap terlalap api
Demikian juga dengan sebait kalimah dari romo tercinta
Wes pancen wolak-waliking jaman
Amenangi jaman edan
Yen ora edan ora keduman
Sing waras padha nggagas
Sekilas namun cukup untuk memompa akal sehatku
Inggih leres romo,,,,,,
Sing waras kudune podho nggagas
Yen ora nggagas,biso dadi menungso sing nggeragas
Dan aku tau romo takkan suka bila melihatku jadi seperti itu
Namun pagiku tersentak kala ku dapati gema pekik "MERDEKA"
Merebak di dirgantara yang tersenyum indah
Merdeka memang, karena penjajah asing memang tlah hijrah dari maetalaku
Namun penjajah tetaplah penjajah, serupa walau tak sama
Gemulai tarian korupsi kian mesra saja berduet dengan dedau tak bernurani
Akkhhh,,entahlah yang jelas di hari Kemerdekaan bangsa ini
Ku kan tetap bersenandung Lir illir sebagai tajuk hari
Dan melantunkan sebuah doa suci
Semoga ibu pertiwi tak menangis lagi
Yang jelas, ku bangga melihat sang saka yang masih setiaBerkibar di negriku tercinta
Tak ijo royo royo
Tak sengguh panganten anyar .....
Senandung tembang yang eyang kakung ajarkan padaku
Sampai kini masih sering ku lantunkan di sela sepiku
Meski ku harus menghela nafas panjang
Di sela nada nada yg ku nyanyikan
Bagaimana tanaman bisa hijau
Bila benih yg ditabur adl kedzoliman
Dan berpupuk ketamakan
Ya eyang,,,.....
Seekor tikus saja di jaman sekarang
Bisa mati di dalam lumbung pangan sendiri
Eyang,,,,,ku hanya bisa tersenyum getir
Kala mengadu mukadimah
Dari tembang eyang kakung dgn kenyataan ini
Bayangan gemah ripah loh jinawi
Seketika lenyap terlalap api
Demikian juga dengan sebait kalimah dari romo tercinta
Wes pancen wolak-waliking jaman
Amenangi jaman edan
Yen ora edan ora keduman
Sing waras padha nggagas
Sekilas namun cukup untuk memompa akal sehatku
Inggih leres romo,,,,,,
Sing waras kudune podho nggagas
Yen ora nggagas,biso dadi menungso sing nggeragas
Dan aku tau romo takkan suka bila melihatku jadi seperti itu
Namun pagiku tersentak kala ku dapati gema pekik "MERDEKA"
Merebak di dirgantara yang tersenyum indah
Merdeka memang, karena penjajah asing memang tlah hijrah dari maetalaku
Namun penjajah tetaplah penjajah, serupa walau tak sama
Gemulai tarian korupsi kian mesra saja berduet dengan dedau tak bernurani
Akkhhh,,entahlah yang jelas di hari Kemerdekaan bangsa ini
Ku kan tetap bersenandung Lir illir sebagai tajuk hari
Dan melantunkan sebuah doa suci
Semoga ibu pertiwi tak menangis lagi
Yang jelas, ku bangga melihat sang saka yang masih setiaBerkibar di negriku tercinta
Jauzaaku
Jauzaaku tetaplah baahirah dijelaga malamku.
Terangi gulitanya jalanku yang penuh onak & duri.
Raasiyahlah laksana jauharah di dasar ernawanya.
Meski kecipak ombak terus menggoyahkan kewirawananmu.
Salaam yaa salam tuk pemilik alam.
Murka kembara
Anila kembara pengawal kembang para dewa
Silap memang ku curaikan,,atas palawa jalang
Pada gugusan bintang,....
Keterdiaman yang kau taswirkan
Laksana tikaman cendrasa baginda rama
Mojopahitku
Dihampar gulungan gulungan lontar
Disana tlah tertuang sebuah karmawedha
Atas kidung asmaradhana yang pernah ada
Diantara reruntuhan puing istana
Mojo ku yang pahit,...
Tak lagi terkecap rasanya
Setelah sekian abad terpendam kisahnya
Mojo Pahitku,bersemayamlah dalam damai kasihNya
Pun bagimu baginda raja,
Gayatrimu masih menuntaskan pertapaannya
Kelak di swargaloka kita kan bersua
sajak singkat
Masihku tergugu diantara butir aksamalaMu...
Sedang kelakar sang waktu masih terus mencemooh karmawedhaku.
Petah benar Kau dulang kisahku.
Bagai kembara yang menyusuri setapak berliku.
Vandalkah ??
Telah kau tiupkan sangkala Dewadatta pada dinding sunyiku.
Kau satroni bilik bilik mimpi juga ruang imaji.
Terhenyak,tersentak aksara bisuku.
Apa sebenarnya yang hendak kau cari duhai Kurunanda ?
Tak ku ingini kau nuksma serupa vandal atas kusumaku
Usah ciptakan cabuh digeladriku.
Karena tiada pernah ku jamah tuar tuarmu yang demikian magrurnya.
Zaahirahnya wajah Dhuha
Zaahirahnya dhuhaMu diantara gemerlap madyapada
Telah menawan hatiku tuk bercengkrama
Tersungkur dlm syukur bersama butir aksamala
PadaMu ku haturkan eufoni cinta...
Salaam ya salaam
Mengerang demi anakmu
Desah malam masih saja menyayat hati
Bersama tikaman pada raga indah di ujung sana
Mereka tiada nampak cantik lagi
Seiring tersapunya rona gincu dari bibir seksinya
Terkulai ia menimang mimpi di bawah pangkuan rembulan
Bersama aroma busuk lelaki berpori legam
Ahh kau,,ciut hatiku melihat mu
Padahal esok kau harus memasak dengan riang
Demi anak anakmu yang perutnya tak lagi mengembang
Jumat, 09 September 2011
Kremasi mu
Gelinjang asmara di bingkai retak aksara
Patah sudah kokoh pilar hati sang pujangga
Berlalu,pergi
Membakar diri dalam sepi
Sungguh tiada ingin ku lihat kau di kremasi
Sebab terlalu indah warugamu dijilati bara api
Sedang hidungku masih terlarang
Tuk mencumbu aromamu yang mulai jalang
Akkhhg,.....
Patah sudah kokoh pilar hati sang pujangga
Berlalu,pergi
Membakar diri dalam sepi
Sungguh tiada ingin ku lihat kau di kremasi
Sebab terlalu indah warugamu dijilati bara api
Sedang hidungku masih terlarang
Tuk mencumbu aromamu yang mulai jalang
Akkhhg,.....
Selasa, 23 Agustus 2011
Bisa ,.....
Syahda,,aksaramu terasa
Sanggup membuai jiwa
Mabuk dalam khayal mengoyak nalar
Bagai hembus bisa ular
Terlalu sakit tuk ku telan
Tapi juga terlalu sayang tuk ku abaikan
Akkkgghh,.....
Sanggup membuai jiwa
Mabuk dalam khayal mengoyak nalar
Bagai hembus bisa ular
Terlalu sakit tuk ku telan
Tapi juga terlalu sayang tuk ku abaikan
Akkkgghh,.....
Senin, 22 Agustus 2011
Metamorfosa
Raasiyah adalah pusakaku
Haawiyah memang kodratku
Dan bagai rana memang wujudku
Yang sedang bermetamorfosa menjadi bahiirah
Walau bilikku ranggung di sudut sana
Namun tak mengurangi kesungguhanku
Tuk menjadi daifullah di Darul JalalNya
Haawiyah memang kodratku
Dan bagai rana memang wujudku
Yang sedang bermetamorfosa menjadi bahiirah
Walau bilikku ranggung di sudut sana
Namun tak mengurangi kesungguhanku
Tuk menjadi daifullah di Darul JalalNya
BURAM
Terselap rindu menyergap hariku
Mairat sudah ceria yang ku cipta
Hingga lelah ku jelma huuriyah di safana
Tak sangka kau semat selembar dewangga dijauzaa ku
Namun entah mengapa korneaku kian buram adanya
Mengenali benang raja di bidang purnama
Sedang ku yakini socaku tidaklah buta
Tuk mengeja bait bait getir dari saujana
Mairat sudah ceria yang ku cipta
Hingga lelah ku jelma huuriyah di safana
Tak sangka kau semat selembar dewangga dijauzaa ku
Namun entah mengapa korneaku kian buram adanya
Mengenali benang raja di bidang purnama
Sedang ku yakini socaku tidaklah buta
Tuk mengeja bait bait getir dari saujana
Kamis, 18 Agustus 2011
GELARAN TERMULIA
Yang diistimewakan dengan gelaran termulia
Dialah yang tiada pernah lelah berdoa
Menengadahkan tangan di hampar sajadah
Bersama rinai luh yang menghiba
Berharap ampunan atas gunungan dosa
Dialah yang tiada pernah lelah berdoa
Menengadahkan tangan di hampar sajadah
Bersama rinai luh yang menghiba
Berharap ampunan atas gunungan dosa
KISAH YANG AFKIR
Berhentilah kau kirim candra sengkalamu atasku
Sebab netraku tlah enggan tuk mengejanya
Dan pamanggihku tlah lelah tuk memaknainya
Mestinya kita nikmati saja
Sema yang tlah mengubur asmaradhana kita
Tanpa mersik dan luh mu yang masir
Bukankah ini adalah kisah yang pernah kita ukir
Sebab netraku tlah enggan tuk mengejanya
Dan pamanggihku tlah lelah tuk memaknainya
Mestinya kita nikmati saja
Sema yang tlah mengubur asmaradhana kita
Tanpa mersik dan luh mu yang masir
Bukankah ini adalah kisah yang pernah kita ukir
MADYAPADAKU,...........
Haruskah kau semayamkan raga sang dewi
Saat sang Durga mulai melangsur gladrinya
Sedang ku tau pemilik waruga indahnya
Masih ingini tuk berdiam disana,..........
Akhh,,madya pada yang penuh tipu daya
Berlagak sok gagah di depan kelir saja
Semoga kau tak mengusik merak kahyanganku
Dan membangunkan pranala ku
Karena ku tak segan mengantarkanmu
Bertemu dengan sema mu !!!!!!!!!!!!!
Saat sang Durga mulai melangsur gladrinya
Sedang ku tau pemilik waruga indahnya
Masih ingini tuk berdiam disana,..........
Akhh,,madya pada yang penuh tipu daya
Berlagak sok gagah di depan kelir saja
Semoga kau tak mengusik merak kahyanganku
Dan membangunkan pranala ku
Karena ku tak segan mengantarkanmu
Bertemu dengan sema mu !!!!!!!!!!!!!
LUNAKKAN MURKAKU
Gemerutuk gigir siangku
Saat ku eja laku sang surya
Merambah beranda sunyiku
Ciptakan geram di hangat sapa
Sekuat tenaga ku dinginkan
Bara yang terlanjur menyeruak udara
Tuhan,.......
Bantu aku melunakkan amarah sang murka
Menundukkan angkuhnya egoku
Genggam erat hatiku yang rapuh namun kaku
Dalam simpuh sujudku di ujung kakimu,........
Saat ku eja laku sang surya
Merambah beranda sunyiku
Ciptakan geram di hangat sapa
Sekuat tenaga ku dinginkan
Bara yang terlanjur menyeruak udara
Tuhan,.......
Bantu aku melunakkan amarah sang murka
Menundukkan angkuhnya egoku
Genggam erat hatiku yang rapuh namun kaku
Dalam simpuh sujudku di ujung kakimu,........
Langganan:
Postingan (Atom)